Selasa, 29 Mei 2012


Nama              : Sawal Effendi
Nim                 : 07101001004
Jurusan           : Administrasi Negara
Dosen Pengasuh : Alamsyah,S.IP,.M.Si
Asumsi-Asumsi Penyusunan APBN
Asumsi APBN
Dalam penyusunan APBN, pemerintah menggunakan 7 indikator perekonomian makro, yaitu:
  1. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah
  2. Pertumbuhan ekonomi
  3. Inflasi
  4. Nilai tukar rupiah per USD
  5. Suku bunga SBI 3 bulan
  6. Harga minyak (USD/barel)
  7. Produksi minyak Indonesia
Maka saya akan menjelaskan Alasanya mengapa indikator di atas dijadikan asumsi dalam penyusunan APBN :
1.      Produk Domestik Bruto (PDB)
PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB berbeda dari produk nasional bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan.
PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan. Rumus umum untuk PDB dengan pendekatan pengeluaran adalah:
PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekspor - impor)
Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor melibatkan sektor luar negeri.
Pertumbuhan penerimaan pajak diperkirakan hanya mencapai 14% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara belanja negara diperkirakan mencapai 15,3% terhadap PDB, sehingga target defisit APBN  diperkirakan berada pada kisaran 1,3% dari PDB. Penurunan perkiraan penerimaan pajak.

2.      Pertumbuhan Ekonomi
Secara konseptual, pertumbuhan ekonomi (economic growth) adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Produksi tersebut diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) yang menghitung nilai pasar dari seluruh barang dan jasa yang diproduksi dalam wilayah suatu negara dalam kurun waktu tertentu (biasanya satu tahun). PDB hanya mencakup nilai akhir suatu barang, yaitu dengan menjumlahkan nilai tambah (value added) barang dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi. Pertumbuhan ekonomi menjadi asumsi dalam penyusunan APBN di tahun selanhutnya.

3.      Tingkat Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi.
Inflasi digunakan sebagai salah satu asumsi dasar makro ekonomi karena inflasi mempengaruhi postur RAPBN/RAPBN-P, baik dari sisi penerimaan maupun dari sisi belanja. Karakteristik inflasi dapat digambarkan melalui penjelasan mengenai sebab terjadinya inflasi. Inflasi dapat terjadi karena dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan tekanan produksi dan distribusi.

4.      Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah diasumsikan berada pada kisaran Rp 9.500,00 – Rp 10.500,00 per dolar AS. Kondisi ini diharapkan dapat mendorong sektor riil untuk lebih berperan dalam pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas ekonomi, dan meningkatkan kemampuan ekonomi yang akan memperluas lapangan kerja dan mengurangi jumlah penduduk miskin. Nilai tukar (kurs) adalah sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing-masing negara atau wilayah. Pengertian lain nilai tukar atau yang biasa disebut exchange rate adalah nilai tukar suatu negara diukur dari perbandingan antara harga dari mata uang domestik dengan harga dari mata uang internasional/negara lain. Valuta asing (foreigne exchange) adalah mata uang negara lain (foreign currency) dari suatu perekonomian. Penilaian kurs yang lebih relevan menggunakan nilai tukar riil (real exchange rate). Real exchange rate menunjukkan nilai dimana seseorang dapat membeli barang dan jasa dari suatu negara dibandingkan nilai barang dan jasa di negara lain. Dalam ilmu ekonomi dikenal teori purchasing power parity yang menunjukkan bahwa satu unit dari mata uang apapun dapat membeli suatu barang di semua negara dalam jumlah yang sama. Hal ini berarti bahwa kurs nominal antara mata uang dari dua negara tergantung pada tingkat harga di negara-negara tersebut.

5.      Suku Bunga SBI
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem diskonto/bunga. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia untuk mengontrol kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar.

6.      Harga minyak  indonesia (USD/barel)
Karena pada masa sekarang cadangan migas kita tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri dalam jangka waktu panjang, sehingga harus memperhitungkan harga minya tersebut. ICP atau harga minyak mentah Indonesia merupakan basis harga minyak mentah yang digunakan dalam APBN. (penerimaan PNBP Migas, PPh Migas, dan Subsidi BBM), ICP ini juga merupakan harga patokan minyak mentah Indonesia yang digunakan sebagai dasar monetisasi minyak Indonesia. ICP adalah harga rata-rata minyak mentah Indonesia di pasar internasional yang dipakai sebagai indikator perhitungan bagi hasil minyak. (biasanya memakai standar harga Mid Oil Platts Singapore (MOPS) atau biasa disebut Singapore Platts yang ditetapkan setiap bulan dan dievaluasi setiap semester.
7.      Produksi minyak Indonesia
eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan Gas Bumi dari Wilayah Kerja yang ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya. Produksi minyak digunakan antara lain untuk kegiatan operasional sebagai pembangkit energi, persediaan di kilang operasi atau kilang penampungan, dan lifting minyak (produksi minyak yang dijual). 
Itulah asumsi-asumsi dalam penyusunan APBN yang harus dilakukan. Dalam proses penyusunan RAPBN, angka-angka asumsi tersebut ditempatkan sebagai faktor luar yang menentukan kondisi anggaran, baik sisi pendapatan maupun belanja. Penetapan angka asumsi dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri dari wakil-wakil dari Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kantor Menteri Koordinator Perekonomian, dan Badan Pusat Statistik, yang bersidang secara rutin untuk membahas dan menentukan angka asumsi.

Angka-angka asumsi yang dihasilkan oleh tim tersebut selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk menyusun RAPBN. Angka-angka yang tertera masih berupa usulan dari pihak eksekutif (pemerintah) kepada pihak legislatif (DPR). RAPBN ini disampaikan oleh Presiden kepada DPR dalam suatu sidang paripurna yang merupakan awal dari proses pembahasan RAPBN antara pemerintah dan DPR.

Senin, 28 Mei 2012


Mahasisa Unsri Ajak Civitas Akademika Tolak Kenaikan BBM
Sriwijaya Post - Kamis, 15 Maret 2012 21:28 WIB
Share |
SRIPOKU.COM/TARSO
Tolak -- Puluhan Mahasiswa tergabung dalam BEM Unsri longmarh dari sekretariat BEM menuju Kampus-kampus lalu ke Rektorat untuk mengajak mahasiswa tolak kenaikan BBM
Berita Terkait
SRIPOKU.COM, INDRALAYA-Penolakan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali dilakukan mahsiswa Unsri Indralaya, Kamis (15/3/2012). Mereka tergabung dalam Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) berunjuk rasa dalam kampus untuk memberikan pengertian kepada seluruh mahasiswa agar menolak rencana kenaikan BBM.

Berbagai poster bertuliskan penolakan kenaikan BBM mereka usung keliling kampus dari fakultas ke fakultas. Usai berorasi, para mahasiswa ini langsung menuju gedung Rektor. Di depan rektorat  secara bergantian melakukan orasi tentang sikap tegas BEM Unsri menolak kenaikan BBM. Secara terus menerus, para peserta aksi melakukan orasi dari fakultas ke fakultas.

Sebelum menuju kantor sekretariat BEM, mahasiswa sempat menghadang mobil plat merah milik dosen Fakultas Pertanian Unsri.. Akhir  dosen tersebut keluar dari pintu samping kiri dan berjalan kaki.

Koordinator aksi, M. Ikbal dan juga menjabat sebagai Menteri Politik dan Luar Negeri BEM Unsri mengatakan, target aksi yang baru saja dilakukan yakni untuk mencerdaskan mahasiswa dan memastikankan isu di lingkungan kampusUnsri terkait dengan sikap tegas menolak kenaikan BBM.

“Ya, kita memang sengaja tidak keluar kampus untuk aksi, kita mencerdaskan mahasiswa Unsri terlebih dahulu tentang dampak kenaikan BBM,” ujarnya seraya menambahkan dalam waktu dekat akan melakukan aksi di daerah dengan massa aksi yang besar lagi bersama aliansi BEM se- Sumsel yang bergabung dengan BEM se Indonesia mengerahkan 1.000 massa.